Seperti biasa sebelum subuh Anhar sudah di masjid, tugas harian bersih-bersih masjid dia lakukan tanpa mikir duit gaji harian atau bulanan. Yang jelas tugas itu dilakukannya tanpa kontrak kerja atau kesepakatan harus dapat upah berapa, murni panggilan hati dan kemauan sendiri. Masjid harus bersih dan siap sebelum orang-orang datang melakukan sembahyang. Setelah bersih-bersih Anhar mengumandangkan adzan. Orang-orang sudah hapal betul dengan suaranya yang khas. Tapi pagi itu sampai di masjid, hidung Anhar melar mingkus karena bau yang menyengat. Tai kucing!
Jari-jari keriput itu terus menganyam iratan bambu, satu persatu iratan bambu disusun bertumpang tindih hingga membentuk pola atau motif tertentu sesuai dengan barang yang dibuatnya. Pekerjaan yang ditekuninya sejak orang tuanya masih hidup sampai dia sendiri dekat dengan liang lahat. Tangannya sangat ahli menganyam membuat tompo, rinjing, kukusan, kalo, pithi, besek dan peralatan lain dari anyaman. Tapi nasip sejarah hidup tak semudah membuat anyaman bambu. Semudah itu dia buat anyaman bambu, sama sulitnya dia mengubah nasip hidup.
01 Yen tak sawang sliramu Kaya tugu Njenggelek ora untek Bisu tanpa swara, apa maneh tembung alus Manuhara Katresnan iki tumplek blek Tan ana sisa, pinda tetanen kasatan toya, Atus… Aking, garing… Sinawang lunglit, raga waspa Tanpa nyawa Ya… Allah… 02 Wus dina sanga Tan menangi padange rembulan, Wengi iki wanci handadari Sapa ngira raga masik turu Kemlasa Ambegan siji – telu Metung jangkepe ambal warsa Sangkan paraning dumadi. Aduh Gusti… Sapa ngira taksih bisa metung Pecakan surya kaping sanga. Tyase rupa… 03 Wengi kang pungkasan, socamu Sesawang mata walang Mosik kersane Allah Gusti Kapan jantra pinesti. Ana cahya anelahi, tembang mijil Mangentha tuntume yuswa Tedak jagat langgeng Mbanyu mili donga swarane Mbrengengeng pindha jutan ewon Tawon buyaran Wengi pungkasan Donya sinawang sepa Sepi… Wektu Manut jantramu (82017)
Komentar
Posting Komentar