Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2018

KOPYAH SUDIN : teguh sastra

Waktu Maghrib semakin dekat. Baju muslim dia kenakan, yang hijau, memang punya Sudin hanya satu itu. Jika sarung banyak, Sudin tinggal milih. Hampir setiap tahun dia dapat hadiah lebaran, belum hadiah sarung pada musim haji. Sudin ngambil sarung goyor yang dominan warna hijaunya, sarung produksi Kalimantan Timur itu menjadi sarung idola, sarung bebas lungset dan panas. Kopyahnya masih kopyah lama. Kopyah hadiah bapaknya sebelum sakit mendadak dan akhirnya meninggal dunia. Masih ingat betul peristiwanya …. “Din, … ini kopyah pesenanmu, sregep sholat, ya…” Itu sudah lama, Sudin masih sekolah SMP, padahal sekarang dia sudah SMA. Ibunya sudah lama mati saat melahirkannya, jadi setelah bapaknya mati, Sudin hidup sendiri. Beruntung, bapaknya meninggalkan sepetak tanah sawah untuk nyambung hidupnya, dia tetap sekolah hingga sekarang, sedang sawah tinggalan bapaknya diolah tetangga. Masih termenung Sudin dengan kisah masa lalunya, ada air meleleh dari sudut matanya, dengan punggung tangan...

RUMAH TUA KITA

Satu kamar saja Tidak luas, satu pintu satu jendela Tempatku menulis lagi kisah lama Tentang bulan malam pucat pasi

SAAT BERTEMU

masih kuingat bau keringatmu yang mengalir di antara kerut kulit wajah, dan senyummu masih yang dulu juga… kutahu kau tak semanis dulu, dan aku malu untuk katakan “ … kini hatiku berbagi, satu untukmu dan satu untukku sendiri, dan kita jalan seperti di ingin… seperti di angan…” (80217)

Guritan : WENGI MUNGKASI

01 Yen tak sawang sliramu Kaya tugu Njenggelek ora untek Bisu tanpa swara, apa maneh tembung alus Manuhara Katresnan iki tumplek blek Tan ana sisa, pinda tetanen kasatan toya, Atus… Aking, garing… Sinawang lunglit, raga waspa Tanpa nyawa Ya… Allah… 02 Wus dina sanga Tan menangi padange rembulan, Wengi iki wanci handadari Sapa ngira raga masik turu Kemlasa Ambegan siji – telu Metung jangkepe ambal warsa Sangkan paraning dumadi. Aduh  Gusti… Sapa ngira taksih bisa metung Pecakan surya kaping sanga. Tyase rupa… 03 Wengi kang pungkasan, socamu Sesawang mata walang Mosik kersane Allah Gusti Kapan jantra pinesti. Ana cahya anelahi, tembang mijil Mangentha tuntume yuswa Tedak jagat langgeng Mbanyu mili donga swarane Mbrengengeng pindha jutan ewon Tawon buyaran Wengi pungkasan Donya sinawang sepa Sepi… Wektu Manut jantramu (82017)

catatan: UNTUK KARTINI (mantan kekasihku)

rinduku padamu rindu anak cucu pintu surga yang terbuka sebab kata, wasiat, sumpah serapah masyaallah ... kuingin memelukmu sampai uzur sampai kubur sudah jadi risalah kepergian bukan lepasnya nyawa dari badan pohon tinggalkan buah, tunas ... dan engkau tumbuh menjadi tunas segala pohonan ..... tak adalagi yang kukenang tak pantas engkau jadi kenangan apimu membakar albumku nyalakan gelap malam (sering kulupakan doa untukmu karena sibuk kerja atau repot ngurus harta benda) ziarah ini hanya formalitas agar ingat, betapa aku mencitamu, dan takut pintu surga tertutup masyaallah... belum kupeluk kuburmu di rimbun pohonan tergugu menyapa Tuhan... (82017)

SUBUH KITA

inikah saat kebangkitan setelah Iama dalam lelap malam makam? Wajahku Tuhan... (sebentar lagi fajar matahari akan meraja menyaksi betapa hibuk manusia dengan kehidupan fana) (82017)

SEBELUM FAJAR

Makan malam kita adalah sepenggal doa  penghantar tidur... dan nyalakan lampu di liang kubur  sekarang saatnya lampu kita nyala sebelum subuh tiba bangkit dari pulasnya tidur saksikan fajar luasnya padang masyar (82017)