KOPYAH SUDIN : teguh sastra
Waktu Maghrib semakin dekat. Baju muslim dia kenakan, yang hijau, memang punya Sudin hanya satu itu. Jika sarung banyak, Sudin tinggal milih. Hampir setiap tahun dia dapat hadiah lebaran, belum hadiah sarung pada musim haji. Sudin ngambil sarung goyor yang dominan warna hijaunya, sarung produksi Kalimantan Timur itu menjadi sarung idola, sarung bebas lungset dan panas. Kopyahnya masih kopyah lama. Kopyah hadiah bapaknya sebelum sakit mendadak dan akhirnya meninggal dunia. Masih ingat betul peristiwanya …. “Din, … ini kopyah pesenanmu, sregep sholat, ya…” Itu sudah lama, Sudin masih sekolah SMP, padahal sekarang dia sudah SMA. Ibunya sudah lama mati saat melahirkannya, jadi setelah bapaknya mati, Sudin hidup sendiri. Beruntung, bapaknya meninggalkan sepetak tanah sawah untuk nyambung hidupnya, dia tetap sekolah hingga sekarang, sedang sawah tinggalan bapaknya diolah tetangga. Masih termenung Sudin dengan kisah masa lalunya, ada air meleleh dari sudut matanya, dengan punggung tangan...