Tai Kucing di Masjid


Seperti biasa sebelum subuh Anhar sudah di masjid, tugas harian bersih-bersih masjid dia lakukan tanpa mikir duit gaji harian atau bulanan. Yang jelas tugas itu dilakukannya tanpa kontrak kerja atau kesepakatan harus dapat upah berapa, murni panggilan hati dan kemauan  sendiri. Masjid harus bersih dan siap sebelum orang-orang datang melakukan sembahyang. Setelah bersih-bersih Anhar mengumandangkan adzan. Orang-orang sudah hapal betul dengan suaranya yang khas. Tapi pagi itu sampai di masjid, hidung Anhar melar mingkus karena bau yang menyengat. Tai kucing!

Hidung Anhar melar-mingkus mengendus-endus asal bau itu, matanya jelalatan kesana-kemari menyelidik setiap sudut masjid. “… edan, di mana tai kucing itu…” Semakin mendekati waktu subuh semakin bersemangat dia cari tai kucing, sampai sekitar masjid, berkeliling putar-putar entah sudah berapa kali, hampir dia putus asa. Bau tai kucing seperti misteri, sebelum orang-orang datang, sebelum subuh menjelang dia harus menemukan dan membuang. Tak terbayangkan bagaimana orang-orang jika berjamaah dengan aroma tai kucing menyertai doa-doa. Belum ditemukan juga, Kyai Romli, imam masjid datang, hidungnya juga melar- mingkus, matnya juga jelalatan mencari-cari asal bau tak sedap itu. Baru sekali ini semenjak dia menjadi imam mencium bau tai kucing.
“Anhar…?”
“Bah, aku mencarinya sampai mumet… tidak ketemu…”      
“Waktunya adzan.”

Adzan berkumandang, tapi terasa sekali suara Anhar ada beban stress yang mendera. Orang-orang sudah berdatangan, itu-itu juga yang biasa menjalankan solat subuh di masjid, hampir tak pernah bertambah, kadang malah berkurang karena sakit atau sebab halangan lain. Sejak masuk halaman masjid, mereka juga mulai merasakan bau yang khas tai kucing itu, sampai di dalam, hingga selesai sembahyang hidung mereka cengar-cengir, matanya diam-diam melirik kesana- kemari mencari-cari.
“Bapak-bapak, jamaah masjid sholat subuh..., kami atas nama takmir masjid mohon maaf …” Kyai Romli begitu tertekan, dan memahami betapa Anhar sebagai juru kebersihan masjid merasa bersalah dalam hal ini, “… peristiwa hari ini sudah menjadi kehendak Allah, bahwa kita harus menjalankan sholat Subuh dengan aroma yang tidak sedap. Saudara Anhar sudah berupaya, tapi sampai dengan detik ini belum menunjukkan hasilnya. Kita berdoa semoga  pada subuh yang lain, kita tidak terganggu oleh bau yang tidak sedap ini.”

Sehabis subuh, Anhar melipat semua karpet masjid, dia cuci semua, lantai masjid dia pel, disiram, digosok, hingga tak sejengkalpun yeng terlewatkan, dia bersihkan semua. Hari ini benar-benar hari terkutuk baginya. Keparat dengan bau tai kucing!

Bau tai kucing hilang dari hidungnya, udara segar masjid puas-puas kembali dinikmatinya. Belum lega dia rasakan hasil jerih payah membersihkan masjid, seekor kucing melenggang di depan mata, “… ini biang keroknya, awas kamu!” Sapu lidi yang masih di tangan dia lempar kea rah kucing itu. Ngeek!  Kucing itu lari tunggang-langgang. Di teras masjid, Anhar melanjutkan istirahatnya, tiduran di situ sambil nganyam pikiran, bagaimana bisa muncul bau tahi kucing? Ketika dia memberssihkan, mengepel lantai masjid sama sekali tidak menjumpai segelintirpun tahi kucing. Dari mana asalnya bau, selain itu apa iya kucing buang air besar di lantai, padahal kebiasaan, naluri kucing jika buang air mesti ngorek-ngorek tanah atau pasir, berak di situ dan menguruknya. Hah…tumpukan pasir itu! Setiap hari kucing yang dia lempar sapu tadi pasti beraknya di situ. Anhar bangkit dari tiduran, mengambil gerobak dan mengangkut, memindah pasir material untuk pengembangan bangunan masjidnya. Dia pindah di belakang masjid, agar bau tahi kucing yang manguap, tidak sampai di ruangan masjid.

Subuh berikutnya… bau menyengat tahi kucing kembali memenuhi seluruh ruangan masjid. Tampak wajah Anhar begitu stres, mesjid sudah dibersihkan, kucing sudah dia lempar sapu lidi tunggang-langgang, pasir sudah dipindah tempatnya, tak mungkin baunya sampai ruangan ini. Meskipun begitu Anhar dengan perasaan terpaksa memeriksa lagi seluruh ruangan sampai ke tempat-tempat tersembunyi yang sebenarnya seekor kucing tidak mungkin berak di situ. Sampai orang-orang  dan imam masjid, Kyai Romli datang kumpul di masjid untuk shalat subuh, bau tahi kucing itu masih misteri.
“Kami sudah membersihkannya, Kyai…”
“Adzan sajalah …”
Dengan perasaan berat Anhar mengumandangkan adzan subuh, ada warna terpaksa, sedih, susah, kesal, marah, mangkel, putus asa, gelisah, stress… pada suaranya. Corong  di menara masjid seperti pecah, setiap telinga yang mendengar terasa pekak. Kyai Romli merasakan juga betapa Anhar sakit, menderita hati jiwanya. Serangan bau tahi kucing dua hari ini benar-benar membuat pusing kepala.
“Saya tak mundur saja, Kyai…”
“Mundur apa?”
“Saya sudah gagal, saya mundur saja dari ketakmiran.”
“Kamu pernah ngomong, apa yang kamu lakukan untuk masjid ini, ikhlas, tidak ada paksaan, …. hanya karena Allah, murni kemauan sendiri, panggilan hati, … apa artinya jika kamu mundur?”

Seperti hari kemarin, Anhar melanjutkan pencariannya, dan pada saat istirahatnya kucing yang kemarin lewat, melenggang lagi di depan matanya. Tapi kali ini Anhar membiarkannya, melihat saja ketika kucing itu lewat melintas dan ternyata menuju tumpukan pasir di belakang masjid. Mata Anhar mengikut saja, dan dia melihat kucing itu menggaruk-garuk pasir lalu berak di situ, selesai berak lantas menguruknya. Diciumnya sebentar untuk mencek tidak ada bau tahi menguap, dan meninggalkannya.

“Bapak-bapak jamaah shalat subuh, ini yang ketiga kalinya kami minta maaf..” sambutan Kyai Romli pada subuh ketiga, “…. Ini hari ketiga bau tidak sedap menyerang masjid kita. Ini teror! Kita harus hati-hati menghadapinya, jangan sampai terjadi fitnah, perpecahan… berulang kali kita diserang berbagai paham dan aliran yang ujung-ujungnya pertengkaran dan perpecahan. Kali ini ujian terberat, teror … fisik, pikiran, mental kita, keimanan ….!”

Di atas langit-langit masjid, dua ekor tikus njegigis cekikikan, kadang berkejaran. Dari bawah suaranya bergemuruh, plafon masjid seakan runtuh.
 “Hai aku tahu siapa biangnya bau tahi kucing itu!” Kata tikus yang satu.
“Siapa?”
“Di antara kalian ada kepingin dikatakan dekat dengan Tuhan.”



210216

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lain Waktu

Guritan : WENGI MUNGKASI