Lain Waktu
Jari-jari keriput itu terus menganyam iratan bambu, satu
persatu iratan bambu disusun bertumpang tindih hingga membentuk pola atau motif
tertentu sesuai dengan barang yang dibuatnya. Pekerjaan yang ditekuninya sejak
orang tuanya masih hidup sampai dia sendiri dekat dengan liang lahat. Tangannya
sangat ahli menganyam membuat tompo,
rinjing, kukusan, kalo, pithi, besek dan peralatan lain dari anyaman. Tapi
nasip sejarah hidup tak semudah membuat anyaman bambu. Semudah itu dia buat
anyaman bambu, sama sulitnya dia mengubah nasip hidup.
Sejak dulu sebelum dia dilahirkan, rumah yang ditempatinya
masih saja berdinding gedhek. Rumah
warisan orang tua, dia tempati dengan seorang cucu yang sudah ditinggal mati
kedua orang tuanya. Cucunya yang yatim piatu, kedua orang tuanya mati karena
wabah demam berdarah.
Cucunya juga ahli dalam menganyam, bukan karena latihan
tetapi menganyam sudah menjadi bagian dalam hidupnya. Kehidupan menganyamlah yang
dia tahu, tidak kenal hape, games
atau mainan elektronik lainnya. Kalau pengin melihat TV anak umur belasan itu
harus ke rumah tetangga. Tidak hanya TV yang dia ikut rasakan, di situ Sidik,
nama anak itu, bisa juga nikmati terang
cahaya listrik di waktu malam. Saat itu juga Sidik bisa ikut serta teman-teman
kecilnya dolanan hape, meskipun hanya
melihat … melihat saja tidak lebih. Harusnya dia sudah kelas 2 SMP, entah
mengapa dia milih ngaji di Kyai Kirom daripada melanjutkan sekolah. Sudah
diberi tahu soal sekolah gratis, tapi tetap saja dia menolak melanjutkan
sekolah.
Kakek dan cucu itu masih saja menganyam bilah bambu, seperti
menganyam peristiwa nasip hidup masa lalu dan besok, atau kapan di waktu yang
jauh …
“Le… mulai besok, kamu ndak usah nganyam.. “
“Ha, kenapa?”
“Kakek saja yang nganyam.”
“Mengapa aku tidak boleh?”
“Tole ngaji saja di Kyai Kirom.”
“Waktu ngaji kan sore, setelah Maghrib, Kek..”
“ Maumu.. bantu-bantu kakek selain waktu ngaji ?”
“Iya..”
“Ndak usah… cari saja kegiatan lain. Kamu mau sampai tua seperti kakek jadi tukang
anyam? Sekarang ini bukan waktuku, tapi waktumu untuk muter rodaning urip. Selain itu kakek tak ingin mewarisi kamu
dengan anyaman bambu.”
“Tapi, Kek…”
Besoknya setelah setor beberapa rinjing, cikrak, dan tompo… Wajah
penuh keriput itu mampir di tukang rosok. Dia mborong buku-buku bekas yang dia
pilih di antara tumpukan kertas. Penuh sekeranjang dia bawa pulang. Besoknya
seperti lagi seperti itu. Sampai rumah dia selipkan buku-buku bekas di dinding gedhek rumah, di mana-mana dia taruh
buku-buku itu, di balai-balai, di meja, di kursi, di lantai, di amben, lemari …di mana-mana sampai tidak
ada tempat lagi yang tidak tertutup buku bekas itu. Ngirat,
nganyam bilah-bilah bambu, duduk, tidur, doa, shalat… apapun dilakukan di atas
buku bekas.
Sidik, cucunya belum mampu menangkap apa yang mendera
pikiran kakeknya. Sidik hanya bisa melihat apa yang terjadi di matanya.
“Kek…?”
“Bacalah jika kau mau…”
“Aku sudah mengaji, Kek.”
“Mbaca buku juga mengaji, bukan kitab saja. Sudah dapat jus
berapa kamu?”
“Sembilan.”
“Hampir lima belas.”
“Masih Sembilan, Kek..”
“Terus mengajimu, dan baca buku-buku itu jika kau mau.”
Tangan keriput itu terus menganyam, bahkan semakin keras,
semakin cepat, “…. Tak ingin kuwariskan anyaman ini pada anak cucu, cukup aku
saja generasi terakhir. Sejarah harus berubah, anyaman ini tidak mampu mengubah
nasip hidup. Sejak dulu kakek buyutku turun- temurun memegang tradisi menganyam
dengan kuat, bahkan wajib dipertahankan.
Tetangga-tetangga sudah banyak yang alih profesi, jadi pedagang, makelar,
polisi, tentara, guru, …dan aku masih menganyam. Tinggal aku sendiri, dan aku
tak ingin cucu terakhirku, Sidik menjadi pewaris tradisi ini …” Pikirannya berkecamuk di antara iratan-iratan
bambu. Sejarah, nasip hidup, kenangan masa lalu dia selipkan pada bilah-bilah
anyaman. ”….ini karya terakhir, ini monument, ini catetan harian, riwayat, sejarah keluarga … betapapun
bernilainya tradisi ini bagiku, Sidik harus membuat cerita sejarah sendiri …”
“Boleh kubantu …, Kek?”
“Tidak.”
Hanya semalam anyaman itu selesai. Paginya tersiar kabar,
kakek tukang nganyam itu mati. Tak banyak yang melayat, orang-orang, para
tetangga sama sibuk kerja, hanya beberapa orang yang sudah sama tuanya dengan
kakek itu datang berbela sungkawa. Yang ngrukti
mayat juga orang-orang yang sudah lapuk, dipimpin modin yang sudah tua juga. Di kuburan juga begitu, lima orang
penggali kubur umurnya rata-rata sudah setengah abat lebih. Ada beberapa orang
yang lebih muda, tapi di kuburan hanya duduk-duduk di atas maesan sambil rokokan. Hari
itu juga jenasah kakek di kuburkan.
Sidik sebatang kara setelah kakeknya mati. Tidak tahu apa
yang akan diperbuatnya nanti untuk melewati hari demi hari dalam hidupnya.
Peninggalan kakek hanya rumah dengan dinding gedhek, buku-buku bekas dan satu anyaman bambu.
Lain waktu …
“Aku habiskan buku-buku bekasmu!”
Komentar
Posting Komentar