KOPYAH SUDIN : teguh sastra
Waktu
Maghrib semakin dekat. Baju muslim dia kenakan, yang hijau, memang punya Sudin
hanya satu itu. Jika sarung banyak, Sudin tinggal milih. Hampir setiap tahun
dia dapat hadiah lebaran, belum hadiah sarung pada musim haji. Sudin ngambil
sarung goyor yang dominan warna hijaunya, sarung produksi Kalimantan Timur itu
menjadi sarung idola, sarung bebas lungset dan panas. Kopyahnya masih kopyah
lama. Kopyah hadiah bapaknya sebelum sakit mendadak dan akhirnya meninggal
dunia. Masih ingat betul peristiwanya ….
“Din,
… ini kopyah pesenanmu, sregep sholat, ya…” Itu sudah lama, Sudin masih sekolah
SMP, padahal sekarang dia sudah SMA. Ibunya sudah lama mati saat melahirkannya,
jadi setelah bapaknya mati, Sudin hidup sendiri. Beruntung, bapaknya
meninggalkan sepetak tanah sawah untuk nyambung hidupnya, dia tetap sekolah
hingga sekarang, sedang sawah tinggalan bapaknya diolah tetangga.
Masih
termenung Sudin dengan kisah masa lalunya, ada air meleleh dari sudut matanya,
dengan punggung tangan dia bersihkan air itu. Hampir Maghrib … Sambil bercermin
dia kenakan kopyahnya. Terasa berat beban di kepala, berat sekali … seperti
berton-ton ada benda di atas kepala, bayangan kabur tampak pada cermin, benda
berton-ton di atas kepala membenamkannya, bayangan wajahnya di cermin hilaang!
Sudin
terus saja berjalan, tidak tahu tempat apa yang dilaluinya….. dia ingat betul
menjelang Maghrib akan berangkat jamaah ke mushola Kyai Ikhwan, tapi sekarang
di pinggir jalan yang luas, panas matahari, pepohonan yang tiada lagi, hanya
gedung-gedung, rumah megah… tapi begitu sepi, tak ada orang lalu-lalang, hanya
sesekali ada mobil lewat.
Kakinya
berhenti melangkah, di seberang jalan dia lihat masjid sangat megah, besar
sekali, tinggi sekali, menara masjid seakan menembus angkasa karena tingginya,
“…. Belum pernah aku melihat masjid sehebat ini, ya Allah… aku hanya mengikuti
kehendakMu, ya… Allah”. Kakinya menyeberangi jalan aspal luas yang sepi,
memasuki gerbang masjid dengan lengkung yang bertuliskan abjad Arab “Masjid At
Taubah”, menyeberang lagi halaman masjid yang luasnya hampir sama dengan jalan
aspal depan masjid. Sebelum naik teras masjid, dilepas sandalnya. Di situ,
matanya sempat melirik sepasang sandal slop hitam mengkilat, beda sekali dengan
sandal jepitnya yang kemarin mau dia pakai ke mushola. Sudin tahu betul ini
belum waktu Luhur, masih ada waktu untuk sholat Dhuha.
“Mau
wudlu, nak? Di sana!” seseorang berjubah putih dengan serban putih di kepala
menyapa.
“Iya…”
Sudin
mengambil air wudlu. Di benaknya setumpuk pertanyaan belum bisa dijawabnya. Ini
di mana? Bagaimana dia bisa terdampar tiba-tiba di tempat yang sama sekali
tidak di kenalnya. Sholat Dhuha dia jalankan dengan jutaan pertanyaan yang tidak
bisa dia menjawabnya.
Habis
sholat, Sudin ke teras masjid. Seseorang yang tadi menyapa duduk-duduk di sana.
Sudin menghampirinya.
“Assalamualaikum…”
“Waalaikum
salam, anak dari mana?”
Sudin
menyebut nama desanya.
“Ooo
dari sini saja, kok baru tahu ya..!”
“
Baru sekali ke masjid ini, … ini di mana to pak?”
“
Tadi kamu sebut nama desamu..”
“Kauman..”
“Ini
Desa Kauman. RT, RW berapa?”
“RT
5, RW 6”.
“Benar,
ini RT 5 RW 6”
“Benar
Pak… ini desa Kauman?”
“Sejak
saya lahir, desa ini namanya Kauman!”
Nafas
Sudin seakan terputus, mana mungkin baru kemarin Kauman di mana dia lahir,
besar dan tinggal di situ berubah 120°. Rumah-rumah sederhana, rimbun
pepohonan, jalan tanah tidak ada lagi. Tidak sejengkalpun yang tidak berubah.
Apalagi masjid semegah ini, dia baru tahu hari ini. Otak Sudin benar-benar tak
bisa mencernanya, seakan beku, mandeg, seperti terhentinya nafas, udara yang
masuk tenggorokan.
“Mana
mungkin… tidak, tidak mungkin!”
“Ada
apa nak… di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin…”
“Ini
desa yang aku ndak kenal, Pak…” Sudin mengulang nama desa RT. RW, kecamatan,
kabupaten dan terakhir”….. Indonesia!”
“Iya,
benar!” Orang itu membenarkan semua perkataan Sudin.
Keringat
dingin mendadak membasahi sekujur tubuh Sudin, jantungnya berhenti berdenyut,
nafasnya mandeg, dunia berputar sangat cepat…. Tangannya mencengkeram lantai
masjid, Sudin mengatur nafas untuk mengembalikan kesadaran.
“Ada
apa, nak …?”
“Ndak
apa-apa, Pak. Oh… iya, saya harus manggil Bapak siapa?”
“Panggil
saja Syamsudin, orang-orang biasa menyapaku… Kaji Sudin, karena aku sudah naik
haji.”
Sudin
terkejut, tapi karena sudah mulai memahami keganjilan yang dijalaninya, dia
bisa mengontrol perasaan, denyut nadi dan nafasnya.
“Namaku
Syamsudin, Pak… Orang-orang menyapaku Sudin!” orang itu terkejut, “ Bapakku, Mahmud. Ibuku, Masitoh…”
“Bapakku
Mahmud…, Ibuku Masitoh…”
“Saya
anak satu-satunya, ibuku meninggal saat melahirkan, bapakku mati juga sebelum
aku usia dewasa…”
“Sama…
aku anak satu-satunya…”
“Aku
lahir saat reformasi, demo besar-besaran mahasiswa, menuntut Soeharto turun
dari kursi presiden, sekitar tahun 1999.”
“Hah..!
itu sudah lama sekali…”
“Maksud,
bapak?”
“Sekarang
2999.”
Sudin
tidak bisa berpikir. Sekarang, 1000 tahun kemudian.
Suara
adzan terdengar dari teras masjid, sayup-sayup jauh sekali, kadang jelas
terdengar, kadang hanya seperti teriakan… tapi jelas itu suara adzan. Waktu
Luhur. Orang itu meminta Sudin untuk adzan. Sudin mengiyakan, mengambil wudlu
dan melantunkan adzan. Suaranya yang merdu dan tajam menembus dinding-dinding
masjid, tembok-tembok rumah, dan bebal telinga yang tidak bisa mendengar nama
kebesaran Allah seperti tersayat … inilah Allah Tuhanmu Yang Maha Besar. Sudin
sama sekali tidak menyadari jika adzan yang dikumandangkan mempengaruhi semua
orang di sekitar masjid. Orang yang tidur terbangun, yang sedang makan berhenti
makan, yang lupa menjadi ingat, yang sakit sembuh, yang gila menjadi waras, …
yang apapun dilakukan orang saat itu terhenti. Mereka bergerak ke masjid,
semua… semua datang ke masjid.
Bergegas
orang-orang menuju masjid, tapi setelah sampai mereka berhenti di balik pagar
masjid, mereka tidak masuk halaman, tidak masuk masjid. Mereka hanya ndongong
dari balik pagar memandangi masjidnya yang megah seperti keraton. Berjejal
berdesakan orang-orang di balik pagar masjid, tampak wajahnya terkagum-kagum
dengan keindahan masjid. Sudin tidak tahu, tidak menyadari itu semua. Sudin
begitu asik menghayati keagungan Asma Allah ….
Adzan
berakhir, orang-orang bubar, kembali pada kegiatan masing-masing. Sudin dan orang
itu menjalankan sholat luhur berjamaah. Berdua saja, orang itu menjadi imam,
dan Sudin makmum. Demikian juga yang terjadi saat shalat Asar, Maghrib dan
Isyak.
Menjelang
Maghrib di luar masjid. Orang-orang terbangun dari tidurnya, seperti saat pagi
hari. Menjelang malam mulai tampak kehidupan. Orang-orang mulai lalu
lalang. Mobil, kendaraan, dan segala
macam sarana transportasi memenuhi jalan depan masjid. Pintu-pintu rumah
terbuka, lampu-lampu nyala. Warung, toko, pasar, maal, … semua mengawali. Malam
yang menjadi siang.
Sudin
menyaksikan itu semua dari teras masjid yang sepi, sepanjang malam sampai pagi
hari, dan pada siangnya semua orang mati.
Sedikit-sedikit
Sudin membuka matanya, dia tergeletak di samping tempat tidurnya, tidak tahu
kenapa begitu. Dia ingat tadi saat mengenakan kopyah warisan bapaknya, terasa
beban berat berton-ton di kepala sampai akhirnya dia lupa semuanya. Masih
terasa pening, tapi lumayan, sedikit demi sedikit beban di atas kepalanya
berkurang.
Maghrib
itu 15 – 09 – 2016, dari corong mushola Kyai Ikhwan terdengar adzan, orang-orang
berdatangan untuk jamaah maghriban.
________________________________
Komentar
Posting Komentar